Monthly archives "November 2012"

Laura Mercier Mineral Powder foundation

Laura Mercier mineral powder foundation has been one of my must wear daily regimen since the last few years. And I still can’t find anything else as a substitude. After I put on moisturizer, sunblock, then my Laura Mercier primer powder and the last one is the mineral powder. It gives me a very good coverage without feeling like when you wear two way cake powder. But applying this powder requires a big short brush purposely made for this product. This mineral powder can be used as concealer for blemishes and scars but you should use a little firmer brush to apply on the spotted area.

20121128-210620.jpg

The Mineral Powder Foundation.

20121128-212111.jpg

The Primer for Mineral Powder Foundation.
All by Laura Mercier.

The Festival Women of God

Time flies since I had the big event for women ministry last year that once rocked my world and pushed me forward to have a bigger faith. This time, the WBI Diaspora Sejahtera in Malang continue what we did last year. You can click here to see this last year event.

Waktu serasa berjalan cepat mengingat acara besar ibadah wanita tahun lalu yamg sempat menggoncangkan hidup saya dan memaksa saya untuk mencapai iman yang lebih besar. Kali ini, WBI Diaspora Sejahtera yang di Malang melanjutkan apa yang kita adakan tahun lalu. Klik di sini untuk melihat acara tahun lalu.

20120917-210146.jpg
20120917-205048.jpg

They invited two speaker who spoke in our event last year, Feba Affan and Sally Paduli. I always adore them of being powerful women with huge faith. They have experienced abundant miracles with Jesus. You can read Feba’s great testimony later on the bottom of this post.

Mereka mengundang dua pembicara yang kita undang di acara kita tahun lalu, ibu Feba Affan dan ibu Sally Paduli. Saya selau mengagumi mereka karena iman mereka yang raksasa. Mereka sudah mengalami banyak sekali mujizat-mujizat bersama Yesus. Kesaksian ibu Feba bisa di baca di bagian bawah blog ini.

20120917-205233.jpg

Mrs. Sally Paduli’s sermon based on the book of Psalm 31 which talk about how to be a good women in God’s eyes, how to be productive at home and earn a living, being able to help the husbands, and being good mothers for the children. For example, she brought a sample of a handmade prayer shawl and a handmade knitted cape. She was talking about how some women in other countries doing home industries by making varieties of hand-made crafts. Not only they can bless their families through love and prayers but also through their incomes.

Kotbah ibu Sally Paduli diambil dari Mazmur 31 yang berbicara tentang bagaimana menjadi wanita yang baik di mata Tuhan, bagaimana untuk produktif di rumah dan mendapat penghasilan, menjadi penolong bagi suami, dan menjadi ibu yang baik bagi anak-anaknya. Sebagai contoh beliau juga membawa syal untuk berdoa dan syal rajutan hasil kerjaan tangan. Beliau menceritakan bahwa di luar negeri ada wanita-wanita yang mengerjakan home industri dengan membuat bermacam-macam hasil pekerjaan tangan. Mereka tidak saja memberkati keluarganya dengan kasih dan doa tapi juga memberkati dengan penghasilan mereka.

20120917-205354.jpg
D

20120917-205841.jpg

20120917-205950.jpg

20120917-210226.jpg 

Pemulihan Lewat Anakku Fiba Affan

JAWABAN.com – Berawal dari mengamati seorang kakak yang suka sekali nge-break (berkomunikasi lewat radio), Feba yang saat itu sedang tumbuh remaja, mencoba mengikuti hobi kakaknya itu. Dia tertarik dan mulai nge-break. Awalnya hanya 1 atau 2 jam, tapi lama-kelamaan Feba ketagihan. Dari kebiasaan nge-break, berlanjut ke kopi darat dengan mengadakan pertemuan di berbagai tempat, di Puncak dan di Ancol. Hampir seluruh waktunya dia habiskan hanya untuk hobinya yang baru itu.

Buat saya ini adalah suatu hal yang baru, saya merasakan keenakan. Sampai akhirnya saya mulai bolos sekolah, bahkan saya bisa mendekam di kamar selama 3 atau 4 hari. Lebih banyak waktu untuk kopi darat. Waktu itu saya sudah mulai tertarik dengan laki-laki, sampai suatu ketika saya mulai hancur… Saya mulai pacaran dengan seorang pemuda, saya mulai mencintai dia lebih dari segalanya, lebih dari sekolah saya, lebih daripada keluarga saya. Sampai akhirnya saya lupa daratan, saya tidak mengerti apa akibat dari semua yang saya lakukan, pada waktu SMA saya sudah hamil.

Karena takut, Feba melarikan diri dari keluarga dan sembunyi berbulan-bulan lamanya. Ketika Feba menceritakan kepada ibunya, dia disembunyikan di Lampung.

Nova (Kakak Feba): Setelah itu mama juga agak susah untuk mengontrol Feba. Akhirnya mama memindahkan Feba ke London, dengan rencana agar kandungan Feba diaborsi.

Waktu saya di London, saya blank dan benar-benar tidak tahu harus berpikir bagaimana. Saya bilang pada keluarga saya bahwa saya tidak mau aborsi. Mereka menantang apakah saya mau mengambil resiko, saya katakan saya mau ambil resiko. Saya tidak tahu apa yang akan saya lakukan setelah anak itu lahir, yang jelas saya tidak mau melakukan aborsi. Saya tahu kekesalan keluarga saya karena keputusan saya tidak sejalan dengan mereka. Akhirnya saya ditinggalkan begitu saja… Saya harus jalan 10 km tiap kali ke dokter, saya harus urus semuanya sendiri, dan itu semua saya jalani. Tiap hari, saya tidak tahu harus lari kemana. Tapi saya mendapat perintah dari keluarga, begitu anak saya lahir, saya harus meninggalkan anak itu di rumah sakit. Akhirnya saya hanya bisa diam… Saya setuju meninggalkan anak saya dengan satu syarat, saya mau anak saya diasuh oleh keluarga Kristen.

Saya menandatangani surat adopsi dari Adoption Church dengan satu syarat, ketika saya melahirkan anak saya, saya tidak boleh melihat, sekedar menengok, apalagi menggendongnya. Sampai setelah saya melahirkan, saya pergi ke ruang bayi. Saya bilang ke suster saya mau melihat anak saya. Selama 5 hari saya menggendong anak saya walaupun itu saya lakukan dengan diam-diam. Setelah 5 hari saya tinggalkan anak saya dengan hati hancur… Ya memang itu resikonya karena saya gendong, dan itu yang membuat saya selalu merasa tertuduh…

Setelah keluar dari rumah sakit, Feba memang hidup hanya untuk makan dan tidak pernah berpikir untuk masa depan. Untuk mencukupi kebutuhan hidupnya, Feba bekerja sebagai waitress dan baby sitter. Selama di Eropa, kehidupan Feba semakin hancur. Dia hidup dalam pesta pora, kumpul kebo dengan beberapa pria, semua jenis dosa anak muda sudah pernah dia lakukan. Hidupnya benar-benar jauh dari Tuhan, karena dia merasa sudah tidak layak lagi menjadi anakNya.

Tahun 1987, Feba kembali ke Indonesia. Tidak ada yang tahu kalau dia hamil dan melahirkan anak di luar nikah di Eropa. Sejak itu Feba selalu dihantui rasa bersalah. Feba kian terobang-ambing. Pada tahun 1998 dia berjumpa dengan suaminya dan menikah, setelah Feba menceritakan latar belakang hidupnya kepada suaminya.

Tahun 2000, ketika saya sudah mulai mempunyai uang lebih, saya bilang “Tuhan, saya ingin mencari anak saya…”. Saya pergi kembali ke Adoption Church tapi ternyata sudah tutup. Saya pergi ke rumah sakit, mereka minta file padahal saya tidak punya file, karena file itu disimpan oleh keluarga saya. Saya usul untuk mengambil copy file saja, tapi dokternya sudah meninggal. Saat itu saya merasa seperti buta dan gelap. Saya merasa sudah tidak mungkin bertemu dengan anak saya. Selama tiga tahun, setiap kali ada uang lebih saya pergi ke sana. Bahkan saya pernah pergi ke Victoria Street saya ketuk semua pintu rumah, karena saya ingat di tempat itulah saya buat perjanjian untuk anak saya. Saya juga minta tolong teman saya untuk cari di internet, tapi tidak ada.

Henry Affan (suami Feba): Saya juga melihat bagaimana kegigihan Feba pada saat dia mencari keberadaan anaknya. Dia bilang pokoknya dia harus ketemu dengan anaknya. Setiap kali berdoa selalu keinginan itu yang dia sampaikan.

Pada tahun 2003, bulan Juni, kerinduan saya dijawab oleh Tuhan Yesus. Rupanya anak itu dan keluarganya, sejak anak itu berumur 5 tahun. Mereka mencari saya, tapi mereka tidak menemukan saya. Sampai mereka menyewa detektif untuk mencari saya.

Henry Affan (suami Feba): Yang tidak pernah kita duga dan tidak pernah kita pikirkan saat itu, ada orang Indonesia yang tinggal di London yang mempunyai hubungan dengan keluarga itu, yang ternyata juga sedang mencari Feba.

Setelah itu saya pergi ke London dan saya berjumpa dengan anak saya. Saat pertama kali ketemu, merupakan suatu hal yang sanagt luar biasa bagi saya. Pertemuan kami diatur oleh pengacara, kami hanya diberi waktu setengah jam. Waktu ketemu saya juga tidak boleh memberitahukan alamat saya. Namun apa yang luar biasa bagi saya saat itu… Sebelum pertemuan saya bilang pada Tuhan bahwa saya sudah siap jika nanti anak saya meludahi dan memaki saya, saya sudah siap… karena saya memang seorang ibu yang tidak bertanggung jawab. Tapi ketika dia berjumpa dengan saya, tidak ada rasa benci, tidak ada rasa kesal, bahkan dia memeluk saya dan berkata, “Terimakasih Feba, apa yang kamu lakukan buat saya bagus, karena kalau kamu pertahankan saya, mungkin saya akan mati, karena saya tahu alasan kenapa kamu buang saya.” Itu kalau bukan karena mukjijat Tuhan tidak mungkin… Yang seharusnya mungkin kalau saya jadi anak saya, saya akan benci orang yang sudah membuang saya, tapi dia beda.. Itu semua karena Tuhan sudah pulihkan hidup saya…(fis)http://www.gki-samanhudi.or.id/content/IncNewsDetail_kesaksian.asp?NewsID=4


The Rocks, Sidney

Pancakes at the Rocks is a must go place. I heard lots of people said that. Eventhough we were so full after having Spanish food, we still had to manage trying out the pancakes there. Shirley askes me ifI like the sweet ones or the salty ones. What she meants by the sweet ones were the pancakes and the salty ones were the crepes. So I tried both kinds and they were all yummy…….. So the long queue was worth it :)

20121103-192507.jpg

20121103-192638.jpg

20121103-192902.jpg

20121103-193352.jpg

The views around the Rocks.

20121103-193650.jpg

20121103-193736.jpg

20121103-193905.jpg

20121103-193953.jpg

20121103-194225.jpg

20121103-194700.jpg

20121103-194852.jpg

<a

ARISUN

Korean food again for the last time in Sidney. Since that day was Warren’s last day because she left one day earlier than me, we had last big dinner once again. My customer told me about Arisun famous fried chicken, so we were lucky we found it. Again, we had to wait for a while until we got the table. I guess it often happens if you go to popular restaurants there. The place is pretty big compared to Madang. (previous post) That’s why the queue is not as bad as Madang too.

20121027-203730.jpg

20121030-204910.jpg

This soup is filled with mandu ( wonton), glass noodle, thin- sliced pork, cucumber and carrot. It’s mild and not spicy at all. The kids loved it.

20121030-205122.jpg

20121030-205152.jpg

I looooove this noodle soup with kimchi, octopus, tok poki and tofu. They serve it all raw and cook it on out table. Above picture: raw. Below: almost cooked. I’ m glad now I can make it myself at home. Yeeeeyyy……

20121030-205244.jpg

The famous Arisan fried chicken.

20121030-205324.jpg

Steam egg.

20121030-205406.jpg

Every bibimbap in every Korean restaurant in Melbourne and Sidney are good in average. Especially the ones in the hot stone bowl. You get the crispy rice on the bottom of the bowl.

20121030-205716.jpg

Capitan Torres Restaurant – Spanish Food

Spanish food is also favorite. My best friend, Shirley said that this restaurant is the best for Spanish food. Since we missed paella so much, we decided that we had to make time trying the food even though it’s the last day in Idney ad we still need to go to the Rock ( people say it’s one of the must go places in Sidney)

20121101-135541.jpg
Spanish drink, shangria.

20121101-135738.jpg

20121101-135950.jpg

20121101-140519.jpg

Paella is a mixed of seafood, chicken and yellow rice all together. Very tasty and rich Spanish dish.

20121101-141932.jpg

Sidney Madang Restaurant

They say, it’s one of the best Korean restaurant in Sidney. It’s indeed very good. Too bad I didn’t go with more people so that I can try more food menus :( Warren’s family were too tired to join us that night. You know I have to wait more than an hour to get the table and I’m telling you its’s worth it.

20121027-193804.jpg

20121027-193947.jpg

20121027-194023.jpg

In Australia and Korea only I dare to order yok wee ( raw beef with egg yolk and slices of pear. Because these two countries have good quality beef.

20121027-194107.jpg

20121027-194152.jpg

20121027-194244.jpg

20121027-194325.jpg

This bowl is the result of mixing the dishes that I ordered. So yummy…….

20121027-194504.jpg